JAKARTA, 30 Agustus 2026 – Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat menangani gejala ‘Bangkalan’ yang berdampak pada penurunan produksi durian di Kabupaten Parigi Moutong dan Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Langkah ini diambil mengingat Kabupaten Poso yang sempat mengalami peningkatan produksi durian sejak 2022 dan mencapai puncaknya pada 2025, justru mengalami penurunan produksi pada periode 2026 akibat meningkatnya kejadian gejala tersebut.
Guna memastikan faktor penyebab dan menentukan langkah penanganan yang tepat, tim gabungan lintas lembaga turun langsung ke lapangan pada 26–27 Agustus 2026. Tim ini terdiri dari Kementan, BRIN, Pemda & Dinas Pertanian (Sulteng, Parigi Moutong, Poso), BKHIT, BRIDA, UPT Proteksi, Akademisi (Untad & Unisa), POPT/PPL, serta AKDI.
Hasil pengamatan awal tim gabungan menunjukkan bahwa gejala ‘Bangkalan’ diduga berkaitan dengan gangguan fisiologis tanaman pada fase berbuah, antara lain terkait ketersediaan dan keseimbangan unsur hara makro dan mikro. Gejala yang ditemukan meliputi buah gugur sebelum mencapai kematangan optimal (pada tingkat ketuaan sekitar 60–80%), daging buah mengkal atau tidak matang sempurna, aroma berkurang, rasa hambar, dan warna buah cenderung pucat. Kondisi tersebut berpengaruh langsung terhadap produktivitas dan hasil panen durian serta berdampak pada pendapatan petani.
Direktur Pelindungan Hortikultura, Leli Nuryati, menyampaikan bahwa pemerintah berkomitmen memberikan pendampingan hingga diperoleh langkah penanganan yang tepat. “Kami turun langsung untuk memastikan penanganan dilakukan secara komprehensif dari hulu ke hilir. Berdasarkan pengamatan awal, aspek nutrisi tanaman dan kondisi pH tanah menjadi salah satu fokus perhatian. Jika tanah bersifat masam, penyerapan unsur hara oleh akar tanaman dapat menjadi tidak optimal meskipun pupuk telah diberikan,” ujar Leli.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Tengah, Dodot Tinarso, yang didampingi Kepala BBRMP Sulawesi Tengah, Ruslan Boy, juga menegaskan bahwa penanganan perlu dilakukan segera mengingat fluktuasi produksi durian yang terjadi di wilayah tersebut.
Sebagai langkah tindak lanjut untuk memastikan faktor penyebab secara lebih akurat, Kementan berkolaborasi dengan BRIN, Universitas Tadulako (Untad), Universitas Alkhairaat (Unisa), BRIDA, serta Balai Karantina melakukan pengujian laboratorium. Sampel yang diuji meliputi tanah, daun, dan buah durian, baik yang berasal dari tanaman sehat maupun tanaman yang menunjukkan gejala ‘Bangkalan’.
Perwakilan peneliti BRIN, Farihul Ihsan, menjelaskan pentingnya pengujian berbagai jenis sampel tersebut untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi tanaman dan lingkungan tumbuhnya. “Pengujian ini penting untuk memastikan kondisi tanaman dan lingkungan tumbuhnya, sehingga rekomendasi penanganan yang diberikan nantinya benar-benar berdasarkan hasil pengamatan dan data laboratorium,” jelas Farihul.
Respons positif juga datang dari lapangan. Ketua Kelompok Tani Budi Rahayu, I Wayan Budarsana, menyambut baik langkah cepat Kementan bersama tim peneliti, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan pemangku kepentingan lainnya. Petani berharap hasil identifikasi berbasis riset ini dapat menghasilkan rekomendasi yang tepat, khususnya dalam perbaikan pemupukan, pengelolaan kesuburan tanah, dan tata kelola lahan.
Kementan dan pihak terkait akan terus berkolaborasi guna mengakselerasi penanganan gejala ‘Bangkalan’. Hasil pengujian laboratorium dan pengamatan lapangan yang telah didapat akan menjadi dasar untuk menentukan rekomendasi penanganan lanjut yang lebih tepat. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu memulihkan produktivitas dan kualitas buah durian di Sulawesi Tengah sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan petani.











