Komoditas biofarmaka atau sering disebut dengan tanaman obat merupakan salah satu komoditas tanaman hortikultura yang mulai banyak dikembangkan di Indonesia. Beberapa komoditas obat seperti kunyit, jahe, temulawak, temu putih, lengkuas, laos, sambiloto, mahkota dewa dan lain-lain sangat bermanfaat untuk kesehatan, sebagai bahan obat dan dapat dijadikan bahan kosmetika kecantikan.
Tanaman obat sangat bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia. Dalam dunia farmasi, tanaman obat merupakan sumber bahan baku obat tradisional maupun modern. Sekarang ini ada kecenderungan masyarakat untuk mengkonsumsi obat tradisional, karena adanya perubahan gaya hidup back to nature dan mahalnya obat-obatan modern yang membuat permintaan tanaman obat semakin tinggi, tidak hanya di Indonesia tetapi juga dunia.
Pemanfaatan tanaman obat juga semakin berkembang seiring dengan mulai berkembangnya produk olahan. Tanaman obat tidak hanya dapat digunakan sebagai obat tradisional dan konsumsi rumah tangga, namun juga dapat dikembangkan dan diolah untuk berbagai macam kebutuhan, terutama jamu, obat-obatan, kosmetik, bahan untuk industri makanan/minuman, dan lainnya.
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 141/Kpts/HK 150/M/2/2019 tentang Jenis Komoditas Tanaman Binaaan Lingkup Kementerian Pertanian, tanaman obat adalah salah satu jenis tanaman yang menjadi binaan Direktorat Jenderal Hortikultura. Dalam Keputusan Menteri Pertanian tersebut, terdapat 65 komoditas tanaman obat, namun demikian belum semua komoditas menjadi prioritas untuk dikembangkan. Pada saat ini komoditas tanaman obat yang menjadi prioritas untuk dikembangkan adalah jahe, kunyit dan kapulaga, dikarenakan merupakan komoditas prospektif yang memiliki keunggulan, baik dari segi kemudahan pasar, nilai ekonomis, potensi nilai tambah, dan menjadi sumber devisa negara.
Pengembangan tanaman obat dilakukan untuk meningkatkan produksi dan mutu agar sesuai dengan permintaan dan kebutuhan, diantaranya melalui pengembangan kawasan dan penerapan teknologi budidaya tanaman obat yang baik dan ramah lingkungan. Adapun sasaran pengembangan yaitu untuk pemenuhan permintaan pasar dalam negeri, bahan baku untuk mendukung industri obat tradisional dan ekspor.
Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang potensial dalam pengembangan tanaman obat di Indonesia. Sentra tanaman obat di Jawa Timur terletak di Kab. Malang, Pasuruan, Mojokerto. Provinsi lain yang merupakan sentra salak di Indonesia adalah Prov. DI. Yogyakarta, Jawa Barat, Sumatera Utara, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Maluku Utara dan lain sebagainya.
Kabupaten Malang merupakan salah satu kabupaten penghasil tanaman obat di Provinsi Jawa Timur. Kelompok Wanita Tani (KWT) Sri Tanjung merupakan salah satu UMKM Hortikultura yang telah mengembangkan berbagai produk biofarmaka yang berasal dari komoditas jahe merah, temulawak, kencur dan lain-lain.
Berdasarkan data produksi dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang, total produksi tanaman biofarmaka di Kab. Malang tahun 2024 sebesar 11177,3 ton dengan luas panen 686 ha, ujar Ina Khoirum Nisa selaku Ketua Tim Produksi Hortikultura, Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang. Beberapa sentra di tanaman obat di Kab. Malang antara lain terletak di Kec. Kasembon, Ngantang, Singosari, Lawang, Donomulyo, Poncokusumo, Dau, Wonosari, dan lain-lain.
Kelompok Wanita Tani (KWT) Sri Tanjung Kelompok Wanita Tani (KWT) Sri Tanjung merupakan salah satu kelompok yang mengembangkan tanaman obat menjadi produk olahan. KWT Sri Tanjung terletak di Jalan Raya Malang, RT 4 RW 5, Dusun Mangir, Desa Sukosari, Kec. Kasembon, Kabupaten Malang.
“Sri Tanjung telah memiliki 9 (sembilan) produk olahan tanaman obat unggulan yaitu : Jaselang, Djawama, Aneka Empon-Empon Instan dan bunga telang dengan merek Sri Tanjung, ujar Sri selaku Ketua Kelompok. Selain itu, kelompok juga menjual beberapa produk yaitu krupuk jagung kering, kacang hijau crispy, lemon kering, bon cabe Sri, bunga telang kering dan sabun eco enzyme tambahnya.
Sri Tanjung terletak di Kec. Kasembon, Kab. Malang, provinsi Jawa Timur. Lokasi poktan sangat strategis karna berada di pinggir jalan poros yang menghubungkan Kab. Malang dan Kab. Kediri serta dekat dengan Kab. Jombang.
Sri Wahyuni dikenal sebagai simbol perjuangan perempuan dalam pemberdayaan masyarakat agraris dan motor penggerak perubahan. Sebagai wadah organisasi pemberdayaan Perempuan, KWT Sri tanjung memiliki tujuan yaitu 1) Meningkatkan keahlian wanita tani menjadi professional, 2) Memberdayakan perempuan secara ekonomi dan sosial, 3) Mengembangkan potensi daerah menjadi unggulan berkualitas, 4) Menciptakan lapangan kerja di tingkat desa, 5) Menggali dan mengembangkan potensi ekonomi lokal dan 6) Memajukan anggota melalui pendidikan, konsultasi kelembagaan, dan usaha.
Sri Wahyuni menjadikan KWT Sri Tanjung sebagai sarana transformasi perempuan desa menuju kemandirian dan profesionalisme. KWT Sri Tanjung memiliki beberapa kegiatan antara lain pengolahan produk tanaman obat, P2L (Pekarangan Pangan Lestari, pelatihan, kewirausahaan
“KWT Sri Tanjung memanfaatkan sumber daya lokal menjadi unggulan daerah untuk menghasilkan berbagai produk yang memiliki unggulan seperti olahan empon-empon dan jagung,” ujar istri dari Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sekaligus Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di Kecamatan Kasembon ini.
Produk unggulan UMKM yang dihasilkan KWT terdiri dari campuran tanaman obat yaitu sebagai berikut :
- Jahe Instan, Temulawak Instan, dan Kunyit Instan yang diproses menggunakan teknologi tradisional modern.
- Jaselang, ramuan herbal berbahan gula, jahe, akar alang-alang, kayu secang, serai, kayu manis, pala, kapulaga, dan cengkeh, tersedia juga dalam versi simplisia tanpa gula.
- Djawama, campuran jahe, kunyit, temulawak, dan kayu manis dengan cita rasa otentik nusantara.
- Krupuk Jagung merupakan makanan ringan yang ramah di konsumsi keluarga Indonesia
Kini produksi Sri Tanjung dapat memproduksi olahan rempah setiap harinya 5 kg, kripik jagung 3 kg, mocaf 200 setiap kg per 4 hari, kacang hijau crispy 36 kg setiap bulannya, sabun eco enzyme 35 pcs setiap minggunya, bunga telang dan lemon kering yang menggunakan teknologi bangunan pengering tenaga matahari (solar dryer dome) tanpa terpapar sinar matahari secara langsung. Pemasaran produk olahan KWT secara offline (kios) dan juga online melalui media sosial shopee. Untuk memperluas pemasaran, KWT juga membuat instagram, tiktok dan youtube sebagai sarana pemasaran.
Dengan filosofi, “tidak harus hebat untuk menginspirasi, tapi langkah demi langkah selangkah pasti bisa menginspirasi,” Sri selalu berusaha untuk menginovasi produk yang baru. Eco Enzyme adalah cairan multifungsi yang ramah lingkungan yang mulai diinovasi oleh Sri saat pandemi Covid-19 melanda tahun 2019. Tahun 2022, Sri juga mulai mengembangkan produk mocaf (Modified Cassafa Flour), bunga telang kering dan lemon kering.
“Eco Enzyme difermentasi selama 3 bulan yang terbuat dari sayur atau sisa sayur, buah atau kulit buah yang tidak busuk, tidak berjamur, tidak berlemak dengan menggunakan rumus 1 : 3 : 10 dalam artian 1 bagian gula, 3 bagian bahan organik dan 10 bagian air’ ujar Sri. Keunggulan produk ini adalah pemanfaatan pewarna alami, berubah warna saat dicampur jeruk nipis atau lemon, ramah lingkungan dan dapat sebagai pembersih alami dan pupuk organik.
Keberhasilan KWT Sri Tanjung mendapatkan pengakuan nasional dengan ditetapkannya sebagai Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan dan Swadaya (P4S) pada tahun 2019. Melalui P4S, Sri Wahyuni berbagi ilmu kepada berbagai pihak, mulai dari dinas kelembagaan hingga perguruan tinggi seperti Universitas Brawijaya, Universitas Bina Nusantara, Institut Pertanian Malang, UIN Malang, dan Universitas Negeri Surabaya.
Untuk meningkatkan kemampuan tentang olahan hasil pertanian, P4S Sri Tanjung juga melakukan Pelatihan Olahan Hasil Pertanian pada beberapa KWT di Kabupaten Malang serta MOU dengan SMK Pertanian Pembangunan Provinsi Maluku untuk memberikan ilmu dan pengalaman pada siswa agroteknologi pengolahan hasil pertanian.
Berbagai prestasi telah diraih KWT Sri Tanjung antara lain Juara 1 Pameran Produk Harkop Kabupaten Malang (2017), Juara 1 Pameran Produk Dies Natalis Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (2019), Stand Terbaik Malang Halal Culinary di UNISMA (2024), Juara 1 Lomba Video di Jambore Nasional Hortikultura (2022) dan Juara 2 Lomba Video HUT Citra Kebaya Indonesia (2025).
Untuk mengembangkan UMKM hortikultura di Kab. Malang, Ditjen Hortikultura telah memfasilitasi KWT Sri Tanjung dengan bantuan sarana prasarana pascapanen dan pengolahan pada tahun 2024. Sri menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan Ditjen Hortikultura sangat bermanfaat bagi KWT juga masyarakat sekitarnya di Kab, Malang.
Plt Direktur Jenderal Hortikultura (Dr. Ir. Muhammad Taufiq Ratule, M.Si) menyatakan bahwa Direktorat Jenderal Hortikultura mendorong penumbuhan dan pengembangan UMKM Hortikultura guna meningkatkan nilai tambah produk hortikultura baik segar maupun olahan. Selain itu, penumbuhan UMKM Hortikultura diharapkan mampu mengatasi surplus produksi komoditas segar sehingga selaras dengan program pembangunan pertanian untuk menghasilkan komoditas hortikultura hilir yang unggul dan berdaya saing tinggi.
Sampai tahun 2024 terdapat 862 UMKM Hortikultura yang sudah ditumbuhkan, ada yang sudah mulai menghasilkan dan sudah mulai memasarkan yang diharapkan dapat berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan kelompok tani.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura, Hotman Fajar Simanjuntak menyampaikan bahwa Direktorat Jenderal Hortikultura telah mengalokasikan bantuan sarana prasarana pascapanen dan pengolahan untuk pelaku usaha yang sesuai kriteria yang ditetapkan untuk mendukung penumbuhan UMKM Hortikultura di Indonesia. Melalui bantuan tersebut diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah, diversifikasi produk dan daya saing produk hortikultura serta inovasi diversifikasi produk yang bermanfaat bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani hortikultura.
Penulis
Henni Kristina Tarigan, SP. ME
Fungsional PMHP Ahli Madya











