
Enrekang — Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian melaksanakan Focus Group Discussion (FGD) Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) Klaster Anggeraja I dan III di Balai Penyuluhan Pertanian Anggeraja, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Sabtu (27/12/2025).
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari rangkaian pertemuan calon petani HDDAP di Kabupaten Enrekang untuk memperkuat pemahaman pelaksanaan program pengembangan hortikultura lahan kering yang adaptif terhadap perubahan iklim dan berkelanjutan.
FGD tersebut dihadiri Direktur Jenderal Hortikultura Muhammad Taufiq Ratule yang didampingi Bupati Enrekang Muhammad Yusuf Ritangnga, Sekretaris Daerah Kabupaten Enrekang, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Enrekang, Koordinator Penyuluh, serta sekitar 120 petani bawang merah yang tergabung dalam Klaster Anggeraja I dan III. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan komitmen pemerintah pusat dan daerah dalam mendukung pengembangan hortikultura lahan kering di Enrekang.
Dalam sambutannya, Bupati Enrekang Muhammad Yusuf Ritangnga menyampaikan bahwa mayoritas petani di Kabupaten Enrekang mengembangkan komoditas hortikultura, terutama bawang merah, kentang, dan cabai, selain usaha perkebunan dan peternakan.
“Selain bertani di bidang perkebunan dan peternakan, mayoritas petani di Enrekang juga mengembangkan produk hortikultura, khususnya bawang merah, kentang, dan cabai,” ujar Yusuf.
Ia juga menjelaskan, melalui program HDDAP, petani mendapatkan pendampingan dari pemerintah pusat serta pemerintah provinsi dan kabupaten.
“Petani peserta HDDAP mendapatkan pendampingan untuk pengembangan sekitar 550 hektare bawang merah dan 180 hektare kentang di Kabupaten Enrekang,” lanjutnya.
Kabupaten Enrekang menjadi salah satu dari 13 kabupaten terpilih secara nasional sebagai lokasi pengembangan HDDAP yang akan dilaksanakan hingga tahun 2029. Di Kabupaten Enrekang rencananya, akan dibangun 17 klaster, dengan total luasan 735 Ha yakni 13 klaster komoditas bawang merah dan 4 klaster komoditas kentang, yang dikembangkan melalui pendekatan klaster guna meningkatkan produktivitas dan daya saing hortikultura lahan kering.
Direktur Jenderal Hortikultura Muhammad Taufiq Ratule menegaskan bahwa pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian, terus berupaya menjaga ketersediaan dan stabilitas pangan nasional.
“Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura strategis nasional yang sering mengalami fluktuasi harga. Enrekang sebagai sentra bawang merah lahan kering diharapkan mampu mendukung keberlanjutan produksi dan stabilitas pasokan sepanjang tahun,” pungkas Ratule.
Sebagai informsi, khusus Klaster Anggeraja I, luas lahan komoditas bawang merah yang mendapatkan program HDDAP mencapai 54 hektare. Kebutuhan pengembangan klaster meliputi penyediaan pupuk anorganik, pestisida, serta saluran pipa sebagai sarana pengairan. Rincian kebutuhan sarana dan prasarana tersebut akan dilengkapi oleh masing-masing kelompok tani sebagai dasar pengajuan pengembangan usaha tani bawang merah.
Dalam diskusi FGD juga disampaikan pentingnya pengembangan pascapanen dan produk olahan bawang merah di Kabupaten Enrekang. Contoh pengolahan bawang merah menjadi bawang goreng dari Kota Palu, Sulawesi Tengah, dinilai dapat menjadi referensi, meskipun Palu bukan merupakan sentra bawang merah. Ke depan, Kabupaten Enrekang direncanakan akan melakukan studi dan komunikasi intensif dengan petani di Palu, agar bawang merah dan produk olahannya di Enrekang mampu memiliki branding produk yang kuat, sebagaimana yang telah dimiliki Kabupaten Brebes di Jawa Tengah dan Kota Palu di Sulawesi Tengah.
Sebagai tindak lanjut, District Implementation Team (DIT) bersama penanggung jawab pusat dan Dinas Pertanian daerah akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap rencana kerja pengembangan klaster HDDAP meliputi wilayah Anggeraja, Malua, dan Baroko.
Kehadiran HDDAP diharapkan dapat memberikan dampak nyata dalam meningkatkan perekonomian kelompok dan keluarga tani serta memperkuat Enrekang sebagai sentra hortikultura lahan kering yang berdaya saing.










