


Jakarta — Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Hortikultura terus memperkuat langkah strategis dalam mengamankan pasokan cabai nasional menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Sesuai intruksi Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (AAS) kepada jajaran Direktorat Jenderal Hortikultura untuk mengkonsolidasikan petani mitra Champion Cabai di berbagai sentra produksi yang selama ini telah teruji sebagai garda terdepan pengendali pasokan dan stabilitas harga.
Menteri Pertanian, sekeligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa ketersediaan pangan, termasuk cabai, menjadi perhatian serius pemerintah terutama menjelang momen meningkatnya konsumsi masyarakat.
“Pemerintah tidak boleh lengah. Ketersediaan cabai harus kita jaga dari hulu sampai hilir. Konsolidasi petani champion ini adalah bukti bahwa negara hadir bersama petani untuk memastikan pasokan aman dan harga tetap terkendali menjelang Natal dan tahun baru (nataru)” tegas Amran.
Senada dengan Mentan Amran, Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Muhammad Taufiq Ratule, sangat optimis jika konsolidasi petani champion cabai ini akan menjadi kunci dalam menjaga kesinambungan produksi, distribusi, dan ketersediaan cabai di pasaran, khususnya pada periode rawan lonjakan permintaan seperti Natal 2025 dan tahun baru 2026 (nataru).
“Petani mitra champion cabai memiliki peran strategis karena mereka sudah terorganisasi, memiliki pengalaman budidaya yang baik, serta mampu menjaga kontinuitas panen. Melalui konsolidasi ini, kami memastikan pasokan cabai tetap aman,” ujarnya.
Konsolidasi dilakukan melalui pemetaan luas tanam, luas panen, ketersediaan stok harian, serta pendampingan teknis intensif agar produksi tetap optimal meskipun menghadapi tantangan cuaca ekstrem. Kementan juga mendorong sinergi antara petani champion dengan offtaker, pasar induk, serta pemerintah daerah guna memperlancar distribusi hasil panen melalui skema Kerja Sama Antar Daerah (KAD).
Salah satu petani mitra champion dari Kabupaten Banjarnegara, Teguh Suprapto, menyatakan kepada pewarta, jika wilayahnya memiliki luasan panen aneka cabai lebih dari 200 hektare dengan produksi harian mencapai 3 ton. Produksi tersebut memasok berbagai pasar di Jabodetabek hingga Sumatera. Selain itu, stok di wilayah champion lainnya juga tercatat cukup melimpah dan siap memenuhi kebutuhan daerah defisit pasokan.
Pernyataan tersebut diperkuat oleh Ardi, Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI) yang baru terpilih menggantikan ketua umum sebelumnya, Tunov. Ia menegaskan kesiapan petani champion untuk terlibat aktif dalam agenda pemerintah, khususnya pengendalian inflasi pangan.
“Kita (champion) selalu siap. Barangnya ada, mau dikirim ke mana saja bisa, selama daerah tujuan mendukung dan offtakernya jelas,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa tantangan terbesar petani cabai saat ini adalah cuaca ekstrem yang berdampak signifikan terhadap produksi.
Selain pasokan dari wilayah champion, potensi panen juga berasal dari sentra-sentra cabai lainnya.
Saat ditemui dilapangan, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Kementan, Muhammad Agung Sunusi, menuturkan jika terjadi kenaikan neraca cabai besar pada Desember sebesar 56 ribu ton dan cabai rawit sebesar 12 ribu ton.
“Neraca produksi cabai kita aman menjelang Nataru. Potensi panen tersebar di berbagai daerah seperti Kediri, Blitar, Lamongan, sentra di Jawa Tengah, Jawa Barat, Aceh hingga Sulawesi Selatan. Selain produksi, faktor distribusi menjelang Natal dan Tahun Baru juga sangat penting untuk terus diamankan,” tutur Agung.
Dari Sulawesi Selatan, H. Sabran, petani cabai di Kelurahan Malakke, Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo, menyampaikan bahwa saat ini panen cabai rawit merah berlangsung di beberapa kecamatan seperti Belawa, Tancung, dan Tanasitolo dengan produksi mencapai 50 ton per hari dari luasan sekitar 500 hektare. Harga di tingkat petani tercatat sekitar Rp35 ribu per kilogram.
Hal senada disampaikan Benny Arman, petani champion cabai dari Enrekang, yang menyebutkan panen cabai rawit merah saat ini mencapai 200 hektare dan selama ini memasok kebutuhan Indonesia Timur hingga Jabodetabek.
Untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga, Kementan terus memperkuat komunikasi serta koordinasi lapangan melalui monitoring rutin produksi dan stok cabai di sentra utama. Langkah ini diharapkan mampu meminimalkan fluktuasi pasokan yang kerap memicu gejolak harga menjelang hari besar keagamaan.
Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan komitmennya untuk terus mendukung petani hortikultura melalui pendampingan berkelanjutan, kemudahan akses sarana produksi, serta penguatan kelembagaan petani sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam menjaga ketahanan pangan nasional.











