BIGtheme.net http://bigtheme.net/ecommerce/opencart OpenCart Templates
Wednesday , September 20 2017
Breaking News
Home / ARTIKEL UMUM / Bencana Alam (Banjir dan Kekeringan) Penghambat Produksi Hortikultura
iklim

Bencana Alam (Banjir dan Kekeringan) Penghambat Produksi Hortikultura

Komoditas hortikultura merupakan komoditas yang permintaan produk hasilnya baik di pasar domestik maupun pasar internasional cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Untuk memenuhi permintaan pasar tersebut, petani hortikultura banyak menghadapi berbagai permasalahan dan tantangan, diantaranya masalah Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT), perubahan iklim serta bencana alam seperti banjir dan kekeringan. Usaha peningkatan produksi pertanian khususnya tanaman hortikultura sangat dipengaruhi faktor iklim. Iklim dan cuaca merupakan sumber daya alam, yang hingga saat ini manusia masih relatif belum mampu mengendalikan. Tindakan paling tepat untuk me manfaatkan sumberdaya iklim dan mengurangi dampak dari sifat ekstrim adalah penyesuaian kegiatan pertanian untuk komoditas hortikultura dengan perubahan musim pada masing-masing wilayah sentra hortikultura.
Permasalahan utama yang ditemui pada usahatani hortikultura adalah pertama; pola produksi tidak sama tiap bulan bergantung musim tanam yang cenderung menyebabkan terjadinya neraca minus di beberapa bulan. Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan penambahan luas tanam pada komoditas utama hortikultura. Permasalahan kedua adalah pola kebutuhan / konsumsi terhadap komoditi hortikultura yang cenderung sama tiap bulannya. Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pergeseran bulan tanam pada komoditas utama hortikultura
Perubahan iklim merupakan hal yang alami, karena adanya keragaman proses kosmologi dan geologi. Perubahan iklim mengacu pada perubahan tambahan yang cepat karena tindakan manusia, yang dapat menghancurkan dasar kehidupan di dunia. Ekosistem dan kehidupan secara umum berevolusi dalam kisaran lingkungan ekosistem tertentu. Perubahan iklim dan kejadian iklim ekstrim seperti fenomena banjir dan kekeringan serta terjadinya perubahan pola hujan, fluktuasi suhu dan kelembaban udara dapat memengaruhi usahatani hortikultura yang dampaknya berakibat pada gagal panen dan menurunkan produksi komoditas hortikultura.
Kekeringan dapat mengurangi luas tanam dan luas panen, menurunkan hasil produksi utamanya pada tanaman hortikultura yang membutuhkan banyak air khususnya seperti beberapa komoditas sayuran. Ketersediaan air dalam hal ini erat kaitannya dengan jumlah dan distribusi curah hujan yang ada di suatu wilayah. Curah hujan rendah serta distribusi hujan yang tidak merata dalam jangka waktu tertentu dapat menyebabkan defisit nya air pada area pertanaman dan terjadinya kekeringan fisiologis yang kurang baik bagi pertumbuhan tanaman.

Banjir
Berdasarkan faktor penyebab, banjir dapat dibagi menjadi empat kategori, yaitu banjir sungai, banjir pesisir pantai, banjir urban dan banjir bandang. Banjir sungai (river flooding) adalah sebuah kejadian alami dan bagian yang tidak terpisahkan dari siklus air. Banjir pesisir pantai (coastal flooding) disebabkan oleh angin topan yang dihasilkan oleh badai tropis, atau sistem tekanan rendah yang kuat yang dapat mengendalikan masuknya air laut ke wilayah daratan dan menyebabkan banjir. Banjir urban (urban flooding) terjadi akibat fungsi lahan dari permukaan tidak kedap menjadi kedap, seperti pembuatan pemukiman di sekitar bantaran sungai. Banjir bandang (flash flooding) adalah banjir yang terjadi secara mendadak dan tidak terduga akibat hujan yang sangat lebat di bagian hulu atau karena bendungan yang jebol.

Kekeringan
Kekeringan berbeda dari bencana alam lainnya pada 4 (empat) hal, yaitu : 1). Karena kekeringan merayap, berakumulasi secara lambat, maka awal dan akhir terjadinyan kekeringan sulit ditentukan; 2). Tidak adanya definisi yang tepat dan berlaku umum membuat kerancuan apakah telah terjadi kekeringan dan jika terjadi bagaimana tingkat keparahannya; 3). Dampak kekeringan adalah non struktural tidak seperti banjir, tanah longsor dan badai yang menimbulkan kerusakan struktur secara nyata; dan 4). Terdapat berbagai jenis kekeringan, dengan parameter yang berbeda, antara lain kekeringan meteorologi, kekeringan agronomis pertanian, kekeringan hidrologi dan kekeringan sosio ekonomis.
a. Kekeringan Meteorologis (Meteorological Drought)
Kekeringan meteorologis umumnya ditetapkan berdasarkan pengamatan anomali curah hujan terhadap kondisi normal dan lamanya periode kering. Intensitas kekeringan berdasarkan definisi meteorologis sebagai berikut : 1). Kering : apabila curah hujan antara 70%-85%, dari kondisi normal (curah hujan dibawah normal); 2). Sangat kering : apabila curah hujan antara 50%-70% dari kondisi normal (curah hujan jauh di bawah normal); 3). Amat sangat kering : apabila curah hujan dibawah 50% dari kondisi normal (curah hujan amat jauh di bawah normal).
b. Kekeringan Agronomis Pertanian (Agricultural Drought)
Berhubungan dengan berkurangnya kandungan air dalam tanah (lengas tanahy) sehingga tak mampu lagi memenuhi kebutuhan air bagi tanaman pada suatu periode tertentu. Kekeringan agronomis terjadi setelah terjadinya gejala kekeringan meteorologis. Intensitas kekeringan berdasarkan definisi agronomis adalah sebagai berikut : 1). Kering : apabila ¼ daun kering dimulai pada ujung daun (terkena ringan s/d sedang); 2). Sangat kering : apabila ¼ – 2/3 daun kering dimulai pada bagian ujung daun (terkena berat); 3). Amat sangat kering : apabila seluruh daun kering (puso).
c. Kekeringan Hidrologis (Hydrological Drought)
Kekeringan hidrologis umumnya terjadi setelah ada tenggang waktu (beberapa hari atau bahkan beberapa minggu) setelah kejadian kekeringan meteorologis atau agronomis. Intensitas kekeringan berdasarkan definisi hidrologis sebagai berikut : 1). Kering : apabila debit sungai mencapai periode ulang aliran di bawah periode 5 tahunan; 2). Sangat kering : apabila debit air sungai mencapai periode ulang aliran jauh di abwah periode 25 tahunan; 3). Amat sangat kering : apabila debit air sungai mencapai periode ulang aliran amat jauh di abwah periode 50 tahunan.
d. Kekeringan Sosio – Ekonomis (Socio economis Drought)
Berhubungan dengan berkurangnya pasokan komoditi yang bernilai ekonomi dari kebutuhan normal sebagai akibat dari terjadinya kekeringan meteorologis, pertanian dan hidrologis. Mengacu pada situasi yang terjadi ketika kekurangan air mulai memberi dampak terhadap manusia dan kehidupan.

Contoh kasus perubahan iklim yang dapat memengaruhi kegiatan usaha tani yang dilakukan petani :
1. Peningkatan Suhu tanah mulai 30C (tahun 2050) hingga > 50C (tahun 2070);
2. Peningkatan suhu lebih rendah di lingkungan maritim;
3. Peningkatan Curah Hujan pada lintang tinggi (temperate) tetapi kering pada lintang pertengahan (sub-tropis) di Asia;
4. Meningkatnya lahan yang kekeringan;
5. Daerah tropika – perubahan tidak pasti, intesitas angin topan meningkat 10-20%;
6. Kenaikan permukaan laut sedang menurut IPCC sekitar 50cm (belum memperhitungkan pencairan gunung es);
7. Muncul invasive species dan menekan keragaman ekosistem (Biodiversity).

Tiga faktor berpengaruh pada pertumbuhan dan produksi tanaman, yaitu peningkatan kandungan CO2; peningkatan suhu; dan perubahan iklim lokal yang berkaitan dengan anomali Iklim (banjir, kering, angin). Ketiga faktor tersebut di atas saling ber-interaksi dan berpengharuh pada produktivitas, mutu, hama dan penyakit tanaman. Pada daerah geografis yang berada pada area lintang rendah kecenderungan yang terjadi pada sektor pertanian adalah terjadinya penurunan produksi apabila keadaan suhu naik 1-3°C di atas rata-rata suhu lokal. Serta kecenderungan tingginya frekuensi kejadian kekeringan/banjir akan ikut berpengaruh pada sektor pertanian yang berada di area geografis lintang rendah
Pada kasus dimana keadaan / kondisi suhu tinggi, laju evaporasi / penguapan ikut menjadi tinggi, dan apabila irigasi tidak cukup, maka tanaman mengalami cekaman osmotik, selanjutnya akan mengakibatkan tanaman menjadi lebih rentan terhadap serangan OPT. Anomali iklim yang sering dirasakan adalah perubahan periode musim kemarau dan musim hujan yang tidak teratur, sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman, serta eksplosi serangan OPT.

Artikel selengkapnya bisa diunduh dan dibaca di sini

Disusun dan diolah dari berbagai sumber oleh : Hendry Puguh Susetyo, SP, M.Si (Fungsional POPT Ahli Muda, Direktorat Perlindungan Hortikultura)

About d@in_horti

Check Also

antraknosapepaya

Penyakit Antraknosa pada Pepaya

Pepaya merupakan salah satu komoditas buah yang dapat tumbuh di berbagai tempat dan memiliki kemampuan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>